Apa yang dimaksud dengan critical review?

Critical review bukan sekedar laporan atau tulisan tentang isi sebuah buku atau artikel, tetapi lebih menitikberatkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi dan analisis) kita mengenai keunggulan & kelemahan buku atau artikel tersebut, apa yang menarik dari artikel tersebut, bagaimana isi artikel tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir kita & menambah pemahaman kita terhadap suatu bidang kajian tertentu.

Dengan kata lain, melalui critical review kita menguji pikiran pengarang/ penulis berdasarkan sudut pandang kita berdasarkan pengetahuan & pengalaman yang kita miliki. Maksud pemberian tugas kuliah berupa critical review ini adalah untuk mengembangkan budaya membaca, berpikir sistematis & kritis, dan mengekspresikan pendapat (Rosen, 2006: 325).

Bagaimana memulai untuk membuat critical review?

Untuk bisa membuat sebuah critical review, kita harus terbiasa untuk berpikir kritis. Dengan berpikir kritis berarti kita mengontrol proses berpikir secara sadar (Troyka, 2006:115). Hal ini sama seperti ketika kita bertemu dengan teman baru, kemudian kita memutuskan apakah kita menyukai orang tersebut apa tidak (Troyka, 2006:117). Menurut Troyka (2006:117), proses berpikir kritis terdiri dari beberapa tahap, yaitu: 1) merangkum (menyatakan kembali); 2) menganalisis (menggali informasi tersirat); 3) mensistesiskan (menghubungkan apa yang telah dirangkum dan dianalisis dengan pengetahuan dan pengalaman kita); 4) mengevaluasi (membuat penilaian). Tahapan inilah yang diterapkan pada saat kita melakukan critical review.
Membuat critical review sama dengan membuat sebuah essay pendek.
Ada beberapa langkah yang harus kita lalui sebelum membuat critical review, yaitu:
1. Memilih buku
Idealnya kita memilih sendiri buku yang akan kita bahas berdasarkan minat kita terhadap bidang tertentu. Dengan menentukan pilihan sendiri akan memperlancar upaya kita untuk melakukan sebuah critical review, namun untuk sebuah tugas kuliah biasanya buku yang akan kita bahas sudah ditentukan. Hal ini bukan berarti menghalangi upaya kita melakukan critical review dengan baik.

2. Membaca kritis
Tentu saja setelah kita memilih buku atau mendapat buku yang ditugaskan, langkah berikutnya adalah membaca. Menurut Troyka (2006:125-126) membaca artikel atau buku dengan baik adalah membaca dengan kritis & sistematis, yaitu:
a. Preview, sebagai perkiraan tentang apa yang akan kita baca untuk memper-mudah proses membaca. Teknik scanning & skimming akan berguna pada tahap ini. Pada saat melakukan preview, cari informasi singkat dengan mem-baca daftar isi dan bab yang kita tuju secara cepat: dari keseluruhan daftar isi, kira-kira apa isi buku tersebut, apa hubungan antara bab sebelum dan bab sesudah dengan bab yang kita tuju, baca semua sub judul dan lihat semua gambar, tabel, dan penjelasan eksta untuk mendapatkan gambaran umum tentang isi bab yang kita tuju. Menurut Rosen (2006:69), tahap preview ini merupakan tahap membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan.

b. Membaca secara dekat dan aktif. Setelah melakukan preview pada bab yang kita tuju, langkah selanjutnya adalah membaca secara dekat dan aktif untuk lebih menggali informasi. Tahap membaca secara dekat dan aktif ini dinama-kan tahap membaca untuk memahami struktur bahan bacaan yang akan kita bahas (Rosen, 2006:70). Hal ini dapat dilakukan dengan memberi catatan singkat di tepi halaman di samping paragraf yang kita baca.
1) Membaca secara dekat (close reading); memberi catatan singkat mengenai isi (rangkuman) paragraf. Dengan kata lain kita mencari pikiran utama setiap paragraf.

2) Membaca secara aktif (active reading); memberi catatan singkat tentang isi paragraf dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman kita, atau hal-hal lain yang menarik perhatian kita yang berhubungan dengan isi paragraf.

c. Review; membaca kembali untuk membandingkan apa yang kita baca pada langkah preview (1) dan membaca secara dekat dan aktif (2) Review berguna agar kita lebih memahami bahan bacaan. Oleh karena itu sebaiknya review di-lakukan berkali-kali dan upayakan selalu menambah materi active reading.

3. Membuat kerangka (outline) dan menulis
Buat kerangka dan kembangkan menjadi tulisan berdasarkan panduan struktur critical review dan panduan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Apa saja yang dibahas dalam critical review?

Struktur sebuah critical review terdiri dari:
1. Informasi bibliografi
Sebagai langkah pertama, selalu sajikan informasi mengenai artikel yang akan kita bahas (nama pengarang, tahun, judul artikel, bab dan judul bab yang dibahas, halaman, kota dan nama penerbit).

2. Pengantar (introduction)
Bagian pengantar biasanya berisi pembahasan umum mengenai topik artikel yang akan dibahas, esensi topik yang akan dibahas dikaitkan dengan isu yang lebih luas (disesuaikan dengan bidang kajian kita sebagai reviewer), dan penjelasan singkat mengenai struktur pembahasan critical review kita.

3. Bagian utama (main body)
Pada dasarnya, ada 2 (dua) hal utama dalam sebuah critical review, yaitu:
a. Merangkum-menyatakan kembali apa yang ada di dalam sebuah artikel dengan kata-kata kita sendiri, bukan menyalin ataupun menerjemahkan.

Pada bagian ini dinyatakan kembali topik pembahasan artikel, struktur dan metoda pembahasan yang digunakan oleh pengarang/penulis, fokus pembahasan dan argumen utama pengarang atau penulis, contoh atau bukti pendukung, kesimpulan pengarang/penulis (pada tahap merangkum kita baru menyajikan kesimpulan pengarang/penulis artikel, bukan kesimpulan kita tentang artikel tersebut). Sebaiknya bagian rangkuman itu tidak lebih panjang dari bagian evaluasi.

b. Mengevaluasi.
Mengevaluasi bukan berarti mencari benar atau salah, tetapi menjelaskan kualitas artikel/buku yang dimaksud (keunggulan dan kelemahan). Semakin banyak kita membaca artikel/buku lain dengan topik sejenis akan memudahkan kita membuat penilaian. Beberapa contoh pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi, yaitu:
1) Siapa pengarang/penulis artikel/buku tersebut? Apakah dia berkompeten dalam bidang kajian yang dibahas dalam artikel/buku tersebut?

2) Siapa target audience (peneliti, praktisi, mahasiswa) yang dituju dalam artikel/buku tersebut? Apakah artikel/buku tersebut sesuai dengan target audience yang dimaksud?

3) Apakah pertanyaan penelitian yang diajukan dalam artikel/buku tersebut menarik dan relevan?

4) Apakah pembahasan artikel/buku yang dimaksud disajikan secara detail, singkat, atau menyeluruh oleh pengarang/penulis?

5) Apakah metoda pendekatan yang digunakan oleh pengarang/penulis sudah sesuai? Jika tidak, mengapa? Kemudian, metoda pendekatan apa yang cocok?

6) Apakah gagasan yang diajukan pengarang/penulis cukup logis dan teratur? Apakah masih terdapat bias?

7) Bagaimana hubungan antar gagasan yang diajukan oleh pengarang/penulis? Apakah disajikan secara naratif atau analitis?

8) Apakah contoh atau bukti pendukung yang diberikan oleh pengarang/ penulis logis, faktual, dan cukup kuat mendukung pikiran utama atau masih sangat terbatas? Apakah contoh tersebut malah bertentangan? Pertimbang-kan juga jenis contoh/bukti yang digunakan (data primer atau sekunder).

9) Bandingkan dengan artikel/buku lain dengan topik sejenis, apakah ada kesamaan atau perbedaan gagasan ataupun metoda pembahasan yang digunakan? Jelaskan kesamaan atau perbedaan tersebut.

10)Apakah pada bagian kesimpulan dijelaskan bahwa pengarang/penulis dapat mencapai tujuan yang dimaksud?

11)Apakah masih ada hal-hal yang belum dipertimbangkan pada bagian kesimpulan?

12)Apakah pengarang/penulis memberikan saran studi atau penelitian lanjut terkait dengan topik pembahasan?

13)Apakah artikel/buku tersebut juga mencantumkan ilustrasi, daftar pustaka ataupun indeks yang bermanfaat?

Penutup

Sebagai penutup, buat evaluasi atau penilaian secara keseluruhan. Beberapa contoh pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk memudahkan penilaian akhir, yaitu:
1. Apakah maksud dan tujuan pengarang/penulis tercapai?
2. Apakah pengarang atau penulis bersifat subyektif atau obyektif dalam mencapai tujuannya?
3. Apakah pengarang/penulis mengabaikan informasi relevan terkait dengan topik pembahasan?
4. Apa esensi artikel/buku yang ditulis terhadap bidang keilmuan secara umum?
5. Apa manfaat artikel/buku yang ditulis terhadap mata kuliah yang bersangkutan? Apa pengaruh artikel/buku tersebut bagi kita sebagai reviewer?
6. Apakah ada saran dari kita untuk penelitian atau studi lanjut terkait dengan topik pembahasan?
7. Apakah kita sebagai reviewer akan membeli buku tersebut atau kita akan me-rekomendasikan artikel/buku tersebut kepada kolega atau teman kita?

Langkah Critical Review

by herdy-pratama-putra
on Feb 15, 2015
Download 78726662 Langkah Critical Review
Transcript
Critical Review Februari 5, 2010 ² knowboo Sekilas Tentang Critical Review

Critical Review secara singkat dapat diartikan sebagai evaluasi terhadap suatu buku maupun artikel. Critical Review bukan hanya merupakan laporan atau tulisan tentang isi suatu buku atau artikel, tetapi lebih kepada evaluasi, seperti mengulas atau mereview, menginterpretasi serta menganalisis. Dan critical review bukan merupakan pembuktian benar atau salah suatu artikel atau buku.

Mengenai keungguluan dan kelemahan juga dijadikan pertimbangan bagi reviwer. Critical Review lazimnya diberikan pada acara perkuliahan di perguruan tinggi sebagai wujud tugas oleh dosen kepada mahasiswa. Dengan begitu, tidak tertutup kemungkinan bagi kalangan umum yang mempunyai keinginan untuk mengasah kemampuannya dalam berpikir kritis. Di dalam perkuliahan, tugas critical review diberikan dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai keinginan untuk membaca dan berpikir sistematis dan kritis serta dapat memberikan pendapat melalui tulisannya.

Dalam hal ini, akan sangat membantu mahasiswa yang kurang memiliki ability dalam mengungkapkan pendapat secara lisan. Tidak hanya itu, dengan menulis critical review, mahasiswa akan dituntut untuk dapat membaca berbagai literatur, dan menggali hal-hal yang dianggap unik di dalam artikel atau buku yang dipilih untuk kemudian diperdalam, sehingga dapat menambah pemahaman yang lebih terhadap suatu kajian tertentu. Dan yang paling penting, dengan menulis critical review para reviewer dapat menguji pikiran pengarang atau penulis berdasarkan sudut pandang penulis dan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki.

Setelah mengetahui definisi dan tujuan menulis critical review, selajutnya adalah bagaimana langkah awal untuk memulainya??? Pertama, reviewer harus memilih buku atau artikel yang akan dibahas. Buku atau artikel tersebut sebaiknya berdasarkan minat reviewer sehingga memudahkan untuk dibahas, kecuali jika pada perkuliahan yang sudah ditentukan oleh dosen. Kedua, secara singkat dapat dikatakan sebagai membaca kritis dan sistematis. Sebenarnya di dalam tahap ini terdapat beberapa langkah lagi.

Dalam membaca, dapat dimulai dengan membaca secara keseluruhan dengan menggunakan teknik skimming dan scanning. Dengan teknik ini reviewer dapat menemukan inti dari bacaan tersebut. Kemudian membaca secara lebih dalam dengan memberikan catatan singkat dalam poin-poin yang penting atau dengan cara mencatat ide-ide atau pikiran utama dari bacaan. Setelah mendapatkan poin-poin yang penting berikan sedikit catatan yang dikaitkan dengan pengetahuan dan pengalaman kita dengan tujuan agar mudah nanti dalam menyusun penilaian. Setelah semuanya selesai, lakukan review agar dapat lebih memahami isi bacaan yang akan dibahas. Yang terakhir adalah tahap penyelesaian, yaitu membuat kerangka dan menulis evaluasi.

Dalam langkah yang terakhir ini berisi hal-hal yang dibahas dalam critical review, di antaranya adalah:
1. Informasi Bibliografi Sebagai bagian awal dari tulisan, selalu disajikan informasi mengenai artikel atau buku yang kita bahas secara lengkap, sepertii nama pengarang, tahun, judul artikel, halaman, kota, nama penerbit serta judul yang dibahas.

2. Pengantar (introduction) Bagian pengantar biasanya berisi pembahasan secara umum mengenai esensi topik dari artikel atau buku yang dibahas serta penjelesan singkat mengenai struktur pembahasan critical review tersebut.

3. Bagian Utama (Main Body) Bagian ini merupakan bagian yang terpenting dalam critical review. Pertama adalah rangkuman. Bagian ini berisi penjelasan secara umum atas topik yang dibahas, baik itu struktur, metoda pembahasan, fokus pembahasan, argumen utama, contoh dan bukti maupun kesimpulan penulis. Bagian ini sebaiknya tidak lebih panjang dari pada bagian evaluasi. Kedua adalah evaluasi.

Bagian ini pada intinya menguji kemampuan reviewer juga dalam hal menilai suatu topik dari pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki karena semakin banyak reviewer membaca buku atau artikel yang sejenis, semakin memudahkan reviewer untuk memberikan penilaian. Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan untuk melakukan evaluasi adalah, yaitu: Siapa pengarang/penulisnya?

Apakah berkompeten dalam bidang kajian yang dibahas tersebut? Siapa target yang dituju, praktisi, mahasiswa atau peneliti? Apakah yang dibahas sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai? Apakah pertanyaan penelitian yang diajukan menarik atau relevan? Apakah pembahasan disajikan secara detil, singkat atau menyeleluruh? Apakah gagasan yang diajukan logis dan teratur? Bagaimana hubungan antar-gagasan yang diajukan? Apakah disajikan secara analitis dan teratur?

Apakah contoh atau bukti pendukung yang diberikan faktual, logis dan cukup kuat untuk mendukung pikiran utama atau masih terbatas dan malah bertentangan? Pertimbangkan juga mengenai data yang digunakan, primer atau sekunder. Bandingkan dengan artikel atau buku dari topik yang sejenis, apakah ada kesamaan dan perbedaan, serta jelaskan kesamaan dan perbedaan tersebut. Apakah pada bagian kesimpulan dijelaskan bahwa penulis telah mencapai tujuannya? Apakah masih ada hal-hal yang belum dipertimbangkan di dalam bagian kesimpulan?

– Apakah penulis memberikan saran studi atau penelitian lebih lanjut terkait dengan topik pembahasan? y Apakah artikel atau buku tersebut juga dicantumkan ilustrasi, daftar pustaka ataupun indeks yang bermanfaat? y Yang terakhir adalah penutup (conclusion).

Pada bagian ini berisi penilaian secara keseluruhan, berikut beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan panduan dalam membuat bagian penutup: – Apakah maksud dan tujuan penulis tercapai? Apakah penulis bersifat objektif atau subjektif dalam mencapai tujuannya? Apakah esensi penulisan buku atau artikel tersebut terhadap bidang keilmuan secara umum dan khusus? – Apakah manfaat artike atau buku dan topik yang dibahas terhadap mata kuliah bagi mahasiswa yang bersangkutan atau pengaruhnya terhadap reviewer?

Langkah-langkah membuat Critical Review

Ada beberapa langkah yang harus kita lalui sebelum membuat critical review, yaitu:
1. Memilih buku
2. Membaca kritis
3. Membuat kerangka
4. Menulis · Memilih buku. Idealnya kita memilihsendiri buku yang akan kita bahas berdasarkan minat kita terhadap bidang tertentu. Dengan menentukan pilihan sendiri akan memperlancar upaya kita untuk melakukan sebuah critical review, namun untuk sebuah tugas kuliah biasanya buku yang akan kita bahas sudah ditentukan. Hal ini bukan berarti menghalangi upaya kita melakukan critical review dengan baik·

Membaca kritis Tentu saja setelah kita memilih buku atau mendapat buku yang ditugaskan, langkah berikutnya adalah membaca. Menurut Troyka (2006:125-126) membaca artikel atau buku dengan baik adalah membaca dengan kritis & sistematis, yaitu: a) Preview, sebagai perkiraan tentang apa yang akan kita baca untuk mempermudah proses membaca.

Teknik scanning & skimming akan berguna pada tahap ini. Pada saat melakukan preview, cari informasi singkat dengan membaca daftar isi dan bab yang kita tuju secara cepat: dari keseluruhan daftar isi, kira-kira apa isi buku tersebut, apa hubungan antara bab sebelum dan bab sesudah dengan bab yang kita tuju, baca semua sub judul dan lihat semua gambar, tabel, dan penjelasan eksta untuk mendapatkan gambaran umum tentang isi bab yang kita tuju.

Menurut Rosen (2006:69), tahap preview ini merupakan tahap membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan. b) Membaca secara dekat dan aktif. Setelah melakukan preview pada bab yang kita tuju, langkah selanjutnya adalah membaca secara dekat dan aktif untuk lebih menggali informasi. Tahap membaca secara dekat dan aktif ini dinamakan tahap membaca untuk memahami struktur bahan bacaan yang akan kita bahas (Rosen, 2006:70).

Hal ini dapat dilakukan dengan memberi catatan singkat di tepi halaman di samping paragraf yang kita baca. 1. Membaca secara dekat (close reading); memberi catatan singkat mengenai isi (rangkuman) paragraf. Dengan kata lain kita mencari pikiran utama setiap paragraf.

2. Membaca secara aktif (active reading); memberi catatan singkat tentang isi paragraf dikaitkan dengan pengetahuan atau pengalaman kita, atau hal-hal lain yang menarik perhatian kita yang berhubungan dengan isi paragraf. c) Review; membaca kembali untuk membandingkan apa yang kita baca padalangkah preview (a) dan membaca secara dekat dan aktif (b). Review berguna agar kita lebih memahami bahan bacaan.

Oleh karena itu sebaiknya review dilakukan berkali-kali dan upayakan kita selalu menambah materi active reading. · Membuat kerangka (outline) dan menulis Buat kerangka dan kembangkan menjadi tulisan berdasarkan panduan struktur critical review dan panduan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Apa saja yang dibahas dalam critical review? Struktur sebuah critical review terdiri dari: a) Informasi bibliografi Sebagai langkah pertama, selalu sajikan informasi mengenai artikel yang akan kita bahas (nama pengarang, tahun, judul artikel, bab dan judul bab yang dibahas, halaman, kota dan nama penerbit). b) Pengantar (introduction) Bagian pengantar biasanya berisi pembahasan umum mengenai topik artikel yang akan dibahas, esensi topik yang akan dibahas dikaitkan dengan isu yang lebih luas (disesuaikan dengan bidang kajian kita sebagai reviewer), dan penjelasan singkat mengenai struktur pembahasan critical review kita. c) Bagian utama (main body) Pada dasarnya, ada 2 (dua) hal utama dalam sebuah critical review, yaitu: 1) merangkum ² menyatakan kembali apa yang ada di dalam sebuah artikel dengan kata-kata kita sendiri, bukan menyalin ataupun menerjemahkan ² ; 2) mengevaluasi. 1.

Rangkuman Pada bagian ini dinyatakan kembali topik pembahasan artikel, struktur dan metoda pembahasan yang digunakan oleh pengarang/penulis, fokus pembahasan dan argumen utama pengarang/penulis,contoh atau bukti pendukung, kesimpulan pengarang/penulis (pada tahap merangkum kita baru menyajikan kesimpulan pengarang/penulis artikel, bukan kesimpulan kita tentang artikel tersebut). Sebaiknya bagian rangkuman tidak lebih panjang dari bagian evaluasi. 2. Evaluasi Mengevaluasi bukan berarti mencari benar atau salah, tetapi menjelaskan kualitas artikel/buku yang dimaksud (keunggulan dan kelemahan). Semakin banyak kita membaca artikel/buku lain dengan topik sejenis akan memudahkan kita membuat penilaian.

Beberapa contoh pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi, yaitu:
v Siapa pengarang/penulis artikel/buku tersebut? Apakah dia berkompeten dalam bidang kajian yang dibahas dalam artikel/buku tersebut?
v Siapa target audience (peneliti, praktisi, mahasiswa) yang dituju dalam artikel/buku tersebut? Apakah artikel/buku tersebut sesuai dengan target audience yang dimaksud?
v Apakah pertanyaan penelitian yang diajukan dalam artikel/buku tersebut menarik dan relevan?
v Apakah pembahasan artikel/buku yang dimaksud disajikan secara detail, singkat, atau menyeluruh oleh pengarang/penulis?
v Apakah metoda pendekatan yang digunakan oleh pengarang/penulis sudah sesuai? Jika tidak, mengapa? Kemudian, metoda pendekatan apa yang cocok?
v Apakah gagasan yang diajukan pengarang/penulis cukup logis dan teratur? Apakah masih terdapat bias?
v Bagaimana hubungan antar gagasan yang diajukan oleh pengarang/penulis? Apakah disajikan secara naratif atau analitis?
v Apakah contoh atau bukti pendukung yang diberikan oleh pengarang/penulis logis, faktual, dan cukup kuat mendukung pikiran utama atau masih sangat terbatas? Apakah contoh tersebut malah bertentangan? Pertimbangkan juga jenis contoh/bukti yang digunakan (data primer atau sekunder).
v Bandingkan dengan artikel/buku lain dengan topik sejenis, apakah ada kesamaan atau perbedaan gagasan ataupun metoda pembahasan yang digunakan? Jelaskan kesamaan atau perbedaan tersebut.
v Apakah pada bagian kesimpulan dijelaskan bahwa pengarang/penulis dapat mencapai tujuan yang dimaksud?
v Apakah masih ada hal-hal yang belum dipertimbangkan pada bagian kesimpulan?
v Apakah pengarang/penulis memberikan saran studi atau penelitian lanjut terkait dengan topik pembahasan?
v Apakah artikel/buku tersebut juga mencantumkan ilustrasi, daftar pustaka ataupun indeks yang bermanfaat?

d) Penutup (conclusion) Sebagai penutup, buat evaluasi atau penilaian secara keseluruhan. Beberapa contoh pertanyaan berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk memudahkan penilaian akhir, yaitu: v Apakah maksud dan tujuan pengarang/penulis tercapai?
v Apakah pengarang/penulis bersifat subyektif atau obyektif dalam mencapai tujuannya?
v Apakah pengarang/penulis mengabaikan informasi relevan terkait dengan topic pembahasan?
v Apa esensi artikel/buku yang ditulis terhadap bidang keilmuan secara umum?
v Apa manfaat artikel/buku yang ditulis terhadap mata kuliah yang bersangkutan? Apa pengaruh artikel/buku tersebut bagi kita sebagai reviewer?
v Apakah ada saran dari kita untuk penelitian atau studi lanjut terkait dengan topic pembahasan?
v Apakah kita sebagai reviewer akan membeli buku tersebut atau kita akan merekomendasikan artikel/buku tersebut kepada kolega atau teman kita?

JURNAL PENDIDIKAN KHUSUSPENGGUNAAN METODE AUDIOLINGUAL TERHADAPKETERAMPILAN MENYIMAK PADA SISWA TUNARUNGU

Diajukan kepada
Universitas negeri Surabaya
untuk Memenuhi Persyaratan Penyelesaian
Program Sarjana Pendidikan Luar Biasa
Oleh:TIKA VENDRA AYU RIRIANTI
NIM: 091 044 010
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA2013

PENGGUNAAN METODE AUDIOLINGUAL TERHADAP KETERAMPILANMENYIMAK PADA SISWA TUNARUNGUTika Vendra Ayu Ririanti 091044010 dan Endang Purbaningrum
(PLB-FIP UNESA, e-mail:vendratika@gmail.com)Abstract;
People’s
communicative skill was affected by their language skills. Deafness make
children’s language skill was difficult to be developed. Their low language skill affects their
communicative skill. It is shown by the listening skill of deaf students at fifth grade of Karya Mulia I inclusive primary school B Surabaya. They have difficulties in understanding the communicationmade by their teachers and friends. Based on this background, this research applies the audiolingual method to find out the effect of audiolin
gual method for the deaf children’s listening skill at
fifth grade of Karya Mulia I inclusive primary school B Surabaya.This research was a pre experiment quantitative research by using one group pre test post test design. Test and documentation are used as the data collecting method. Test is used tocollect the data of listening skill before and after the deaf students are given the action. Documentation is used to collect the ident name, gender, date of birth, address and auditory data.The data analysis techniques are non parametric analysis and sign test.The result showed that there was enhancement score of listening skill. The pretest was 29,6 became 86,9 in the posttest. Z table 5% in two sides testing was 1.96. Zh value obtained was 2.05.The conclusion of this research was that there was a significant effect of audiolingual
method for the deaf students’ listening skill at fifth grade of Karya Mulia I inclusive primary
school Surabaya. Keywords : audiolingual method, listening skill

PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya yaitu suatu tindakan saling menukar pikiran, pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan. Untuk dapat berhubungan dan saling memenuhi kebutuhannya diperlukan mediainteraksi, yaitu komunikasi. Komunikasi adalah proses terjadinya pengiriman pesandari seseorang kepada orang lain.

Dengan adanya komunikasi maka interaksi akanlebih bermakna. Dengan berkomunikasimanusia dapat menyampaikan keinginannya, mengungkapkan perasannya, memberikaninformasi, menyampaikan pendapat, ide dan pikirannya baik secara verbal (lisan) maupunnon verbal (isyarat). Bahasa memiliki peranan yang penting sebagai alat komunikasi, untuk ituseseorang harus memiliki keterampilan berbahasa dengan baik dan benar.

Setiap keterampilan itu berhubungan erat dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Kemampuan berbahasa yang perlu dikuasai oleh setiap individu dalam berkomunikasi adalah bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Kemampuan berbahasa reseptif mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahamiapa yang telah disampaikan kepadanya.

Sedangkan kemampuan berbahasa ekspresif mengacu pada kemampuan yangditunjukkan melalui aktivitas berbicara.Keterampilan berbahasa hanya dapatdiperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa, berarti pula melatih keterampilan berpikir (dalam Tarigan, 2008 : 15)Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, keterampilan menulis (Slamet, dalam Tarigan, 2008:57).

Keterampilan menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung serta merupakan komunikasi tatap-muka atau face-to-face communication (Brooks,dalam Tarigan, 2008 : 2) Menurut Tarigan (1985:2) bahwatentang adanya hubungan antara menyimak dengan berbicara dalam penguasaan bahasa,yaitu : ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi).

Oleh karena itu penerapan metode dengan menyimak sangat penting dalam penguasaan bahasa dan kecakapan berbicara. Menyimak merupakan suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melaluiujaran. “Dengan menyimak seseorang akan dapat memahami isi pikiran seorang pembicara.

Didalam berkomunikasi, anak tunarungu mengalami hambatan dalam hal mendengar sehingga berdampak pada kemiskinan bahasa dan hambatan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Dengan ketunarunguan yang dialami, seseorang tidak akan dapat memahami secara langsungtentang isi pembicaraan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Keberfungsian indera pendengarannya dialihkan ke indera visualnya.

Melalui mata, anak tunarungu dapat melihat dan mengamati hal yang terjadi di lingkungannya. Hambatan dalam memperoleh informasi melalui indera pendengaran ini jelas mengganggu proses belajarnya. Anak tunarungu dapat menangkap gerak bibir atau isyarat yang dilakukan gurunya maupun lawan yang diajak berkomunikasi.

Hal ini sesuai dengan pendapat Sadjaah (2003:43) mengatakan
bahwa “Anak tunarungu tidak/kurang mampu mendengar menangkap kata pembicaraan orang lain melalui pendengarannya, ia hanya mampu melihat/menangkap pembicaraan orang lainatau lawan bicaranya melalui gerak bibir dengan kemampuan daya lihat (mata),matalah yang mengalih fungsikan menutupihal-hal yang kurang yang tidak didapat melalui pendengarannya”.

Anak tunarungu berusaha memaham isegala sesuatunya melalui penglihatan, yakni mengalihkan pengamatannya pada mata, oleh karena itu anak tunarungu seringdisebut anak visual, melalui mata anak tunarungu memahami bahasa lisan atau oral, selain melihat gerakan dan ekspresi wajahlawan bicaranya mata anak tunarungu juga digunakan untuk membaca gerak bibir orang yang berbicara (Somad dan Hernawati, 1996:28).

Karakteristik siswa tunarungu bahwa dalam mendapat informasi dan wawasan, siswa tunarungu lebih mengoptimalkan indera visualnya, dan siswa tunarungu yang memiliki sisa dengar akan berkembang optimal dengan memanfaatkan sisa pendengarannya. Hal ini sesuai dengan pendapat (Moores, dalam Somad dan Herawati, 1995:26) bahwa “Orang tuli adalah yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat prosesinformasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantudengar dimana batas pendengaran yang dimilikinya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran.”

Salah satu dampak ketunarunguan adalah perkembangan bicara dan bahasa. Perkembangan bicara dan bahasa terhambatsebagai akibat dari terbatasnya pemerolehan bahasa dan pembendaharaan kata
(vocabulary) dan mengakibatkan terlambatnya dalam berkomunikasi secara oral baik secara ekspresif (bicara danmenulis) maupun secara reseptif (menangkap bicara orang lain maupun membaca).

Pola komunikasi yang nampak pada anak tunarungu adalah mereka kurang dapat menggunakan aturan tata bahasa yang benar, kata-katanya sederhana, sering menggunakan kalimat yang pendek, sering kurang menggunakan kata imbuhan (Sadjaah, 2005:36) Berdasarkan observasi di kelas VSDLB B Karya Mulia I Surabaya diketahui bahwa keterampilan menyimak siswa masihrendah.

Hal ini nampak dari aspek menyimak yaitu siswa mengalami kesulitan memahami isi pembicaraan teman dan gurunya. Dari aspek bicaranya, ucapan anak terputus-putus, ucapan anak tidak lengkap, dalam satu kalimat ada kata yang dihilangkan, susunan kata masih terbolak balik, pola kalimat yang diucapkan anak masih belum beraturan. Oleh karena itu dalam penelitian ini digunakan metode audiolingual sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicara siswa tunarungu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here